Anda Punya Kebun Sawit? Jika Iya, Berarti Anda Sudah Lakukan Tiga Hal Ini

Teks Foto: Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan penanaman perdana kelapa sawit terkait program peremajaan sawit rakyat (PSR). Selain memberikan manfaat ekonomi secara nyata bagi Indonesia, para ahli meyakini bahwa perkebunan kelapa sawit memiliki tiga fungsi ekologis yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. (sumber foto: dokumentasi samade.or.id)

SAMADE – Macam-masam isu miring terus-menerus dilontarkan oleh pihak antisawit terhadap sawit. Isunya pun diputar ulang terus. Awalnya dipakai isu lingkungan, dan bisa dibantah. Lalu masuk ke isu kesehatan, juga bisa dibantah. Masuk ke isu HAM, bisa dibantah. Kemudian, balik lagi ke isu lingkungan, begitu seterusnya.

Padahal sejatinya, menurut laman wartaekonomi.co.id yang diakses SAMADE, Kamis (8/7/2021), kelapa sawit telah menjadi komoditas strategis, tidak hanya dalam subsektor perkebunan dan sektor pertanian, tetapi juga dalam seluruh tatanan perekonomian Indonesia.

Perkembangan perkebunan sawit juga menghasilkan manfaat multiplier pada level nasional yang begitu besar baik terhadap peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, nilai tambah maupun output melalui pengembangan industri hilir.

Selain itu, perkebunan kelapa sawit juga memiliki kinerja yang hampir sama dengan hutan sehingga berperan penting bagi lingkungan. Dengan demikian, maka jika Anda memiliki perkebunan kelapa sawit, maka perkebunan sawit Anda sedang menjalankan tiga fungsi ekologis perkebunan kelapa sawit yang mirip dengan hutan.

Pertama, peran perkebunan sawit sebagai penyerap karbondioksida. Jika dibandingkan antara kelapa sawit dan hutan dalam kinerja fotosintesis, diketahui bahwa setiap hektare kebun sawit secara netto menyerap sekitar 64,5 ton karbondioksida setiap tahun dan menghasilkan oksigen sekitar 18,7 ton.

Sementara, hutan secara netto menyerap sekitar 42,4 ton karbondioksida dan menghasilkan oksigen sekitar 7,1 ton. Artinya, kemampuan perkebunan sawit dalam fungsi penyerapan karbondioksida dan produksi oksigen lebih lebih unggul dibandingkan hutan.

Kedua, peran perkebunan sawit dalam pemanenan energi surya. Dalam peran dan kinerja pemanenan energi, kebun sawit lebih unggul dibandingkan hutan, baik dalam efisiensi konversi energi radiasi yang lebih tinggi, yaitu 1,7 g/mj, sedangkan efisiensi hutan hanya sebesar 0,9 g/mj.

Kebun sawit juga lebih unggul dalam aspek efisiensi fotosintesis, efisiensi konversi energi, incremental biomass, dan produktivitas bahan kering. Sementara itu, hutan lebih baik dalam penyimpanan energi (biomass).

Namun, jika yang diperlukan dalam pengelolaan kawasan hutan adalah bagaimana menghasilkan energi yang lebih efisien, menyerap karbondioksida yang lebih banyak dan menghasilkan oksigen yang lebih besar, perkebunan kelapa sawit menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.

Ketiga, peran perkebunan sawit dalam fungsi tata air. Dari sisi fungsi tata air, perkebunan kelapa sawit secara umum memiliki peran yang sama dalam fungsi konservasi dan hidrologis dibandingkan hutan.

Perkebunan kelapa sawit yang memiliki siklus produksi yang cukup panjang, yakni sekitar 25 tahun (sejak ditanam sampai replanting), berarti fungsi konservasi dan hidrologis tersebut berlangsung setidaknya hingga 25 tahun.

Leave a Comment