Bagaimana Kalau Buah Sawit Kami Antar ke Istana Negara, Pak Presiden yang Kami Hormati

Teks Foto: Pengumuman dari salah satu pabrik sawit yang ujung-ujungnya tak lagi menerima tandan buah segar (TBS) dari para petani sawit. (sumber foto: istimewa)

SAMADE – Hari-hari belakangan ini bagai gelap gulita nan abadi bagi petani sawit. Bagaimana tidak, setiap hari selalu datang kabar buruk ke petani sawit swadaya.

Setiap hari para petani sawit mendapatkan kabar buruk dari pabrik kelapa sawit (PKS). Kabar buruk itu adalah harga pembelian tandan buah segar (TBS) mengalami penurunan.

Kabar buruk lainnya, PKS tak lagi beroperasi. Macam-macam alasannya. Ada PKS yang mengau sedang melakukan perbaikan mesin sehingga pabrik harus untuk tutup sementara waktu.

Ada pula PKS yang mengaku tangki timbun minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) miliknya sedang penuh, karena itu tak lagi bisa melakukan aktivitas jual-beli buah sawit.

Ujung-ujungnya, semua kabar itu hanya menegaskan kalau PKS tidak terima buah sawit dari petani. Kita enggak tahu apakah ini hanya modus atau benar-benar dialami pihak PKS.

Ini tentu sangat memberatkan bagi petani sawit. TBS yang dihasilkan dari kebun sawit yang sangat dirawat dengan telaten oleh petani menjadi tak ada artinya.

Karena itu, Pak Presiden Jokowi yang kami hormati, kami meminta agar larangan ekspor minyak goreng (migor) dan bahan baku migor sebaiknya ditinjau ulang.

Kalau Bapak Presiden ingin bahan baku migor terpenuhi di dalam negeri, kami yakin hal itu sudah terwujud.

Kalau Bapak Presiden ingin krisis migor tak lagi terjadi di masa depan, kami sarankan bapak Presiden optimalkan BUMN sawit.

Bagaimana teknisnya, ya jangan tanya kami selaku petani sawit swadaya, Pak Presiden yang kami hormati.

Nah, kalau Bapak Presiden marah ke oligarki sawit yang semakin menggurita, kami dukung. Tapi jangan pula kami jadi ikut menanggung akibatnya.

Kami ini sekarang ibarat mati di tengah pertemuan dua kekuatan, Pak Presiden.

Kami yakin ada jalan untuk melawan oligarki itu, Pak Presiden. tapi sekali lagi, jangan tanya kami, Pak Presiden. Mungkin bapak sebaiknya tanya para ahli yang ada banyak di sejumlah kementerian.

Kalau kami cuma minta satu hal ke Pak Presiden yang kami hormati, tinjau ulang kebijakan larangan ekspor itu, pak. Kami sangat terjepit dengan situasi ini.

Dan kalau kami terus terjepit dengan situasi ini, apa yang bisa kami lakukan selain mengantarkan TBS secara langsung ke Istana Negara, Pak Presiden yang kami hormati.

Salam hormat kami untuk Pak Presiden.

Leave a Comment