Banyak Bagian dari Sawit yang Bisa Dikelola, Termasuk yang satu Ini

Teks Foto: Disadari atau tidak, jika pengembangan IVO sukses secara nasional, makasesungguhnya IVO dapat membantu posisi petani lebih kuat dan independen ketika berhadapan dengan pabrik kelapa sawit (PKS). Loh, kok bisa begitu? Penjelasannya ada di artikel ini. (sumber foto: BPDPKS)

SAMADE – Sudah banyak pihak yang membuktikan kalau tanaman kelapa sawit bisa dimanfatkan untuk banyak hal yang bermanfaat bagi manusia. Tidak hanya itu, banyak produk turunan sawit yang juga bisa menghasilkan produk turunan yang baru.

Misalnya buah sawit. Dari buah sawit bisa dihasilkan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), minyak inti sawit, dan lainnya.

Bahkan, tandan kosongnya bisa diproduksi untuk membuat pupuk atau malah dibuat menjadi helm berstandar SNI.

Nah, salah satu produk turunan yang sangat terkenal adalah CPO yang banyak diekspor dan menyumbangkan devisa yang cukup besar bagi negara.

Namun tahukah Anda, bahwa belakangan ini diketahui dari proses pembuatan CPO ini bisa memunculkan satu produk turunan lainnya yakni industrial vegetable oil (IVO).

Dari laman Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) disebutkan awal mula IVO ini diperkenalkan melalui penelitian pihak Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan PT Kemurgi Indonesia dan sumber pendanaan dari kantong BPDPKS.

IVO dihasilkan dari proses pembersihan CPO dari zat-zat yang dapat mempengaruhi kualitas minyak sawit seperti getah dan logam alkali.

IVO dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biohidrokarbon dengan mensyaratkan rendahnya kandungan logam dan alkali logam yang dapat meracuni katalis greenfuel dalam prosesnya.

Untuk persyaratan kandungan IVO untuk biohidrokarbon ini telah ditetapkan Standar Nasional Indonesia SNI N0 8875 – 2020 sebagai berikut:

Dalam SNI ini diatur persyaratan mutu untuk bahan baku IVO sebagai co-processing dan stand alone. Berbeda dengan co-processing, kandungan asam pada pengolahan stand alone tidak dipersyaratkan kandungannya.

Melalui penelitian yang dilakukan oleh ITB dengan PT Kemurgi telah dibangun stand alone mini plant IVO kapasitas 12,2 ton/jam dengan melibatkan pemerintah kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan (Sumsel).

Pada percobaan yang telah berhasil diproduksi sebanyak 140 ton IVO yang telah memenuhi persyaratan SNI 8875-2020.

Penelitian di atas kemudian dilanjutkan oleh PT Kemurgi Indonesia untuk menghasilkan minyak sawit yang memiliki kandungan 3MCPDE yang rendah.

Penelitian tersebut telah berhasil menghasilkan kandungan 3MCPDE di bawah batas maksimal yang ditetapkan oleh Uni Eropa.

Diharapkan dengan keberhasilan ini, nantinya minyak sawit Indonesia memenuhi persyaratan atau permintaan global untuk produk pangan.

Keuntungan dari pengolahan IVO adalah kapasitas produksi yang dilakukan tidak perlu besar (5-20 ton TBS/jam) dapat menggunakan buah yang lewat matang/fermented FFA, dengan teknologi proses yang lebih sederhana (rute produksi lebih pendek) harga IVO dapat lebih rendah dibandingkan dengan harga CPO.

Guna melengkapi keberhasilan tersebut, saat ini BPDPKS, PT Kemurgi Indonesia dan ITB tengah mengembangkan pabrik IVO skala kecil yang dapat dibangun oleh koperasi.

Lalu, TBS yang dihasilkan oleh pekebun dapat langsung dipasok dalam kondisi apa pun tanpa harus melalui pedagang perantara, dan produk samping biomassa (tandan kosong, fiber, cangkang, dan inti sawit) menjadi milik pekebun.

Keberhasilan penelitian yang dilakukan ini merupakan suatu langkah strategis yang dapat diterapkan untuk memperbaiki rantai pasok kelapa sawit dalam rangka meningkatkan bargaining position pekebun.

Leave a Comment