Cara Cerdas Rawat Sawit Ala Penasehat SAMADE Babel

Teks Foto: Cara mengatasi lahan kelas tiga untuk perkebunan kelapa sawit bisa dilakukan dengan cara menggunakan pendekatan yang organik. Penasehat DPW Asosiasi SAMADE Provinsi Babel, Sudarma Hadinata, punya cara yang uik dalam mengatasi lahan kelas tiga di lahan perkebunan sawitnya. (sumber foto: tangkapan layar video karya Sudarma Hadinata)

SAMADE – Tahu Pulau Bangka, kan? Iya, satu dari dua pulau besar di Provinsi Bangka Belitung (Babel) itu sudah sejak lama dikenal sebagai pusat penghasil timah terhebat di dunia.

Diketahui, banyak lahan di pulau “Laskar Pelangi” itu yang keras. Untuk perkebun kelapa sawit, lahan keras itu bisa dikategorikan sebagai lahan kelas tiga.

Nah, jika punya kebun sawit dengan kualitas tanah kelas tiga maka ini membuat petani harus bekerja lebih keras mengolah lahan.

Sebab, seperti dimuat di Elaeis.co yang diakses SAMADE, Senin (15/11/2021), sawit biasanya tidak tumbuh maksimal seperti tanaman yang ditanam di lahan kelas satu. Harus ada upaya ekstra untuk mengatasi pertumbuhan sawit yang lamban dan tidak sehat.

“Saya pakai sistem rorak, yakni pembuatan parit buntu atau kolam kecil. Lalu beberapa ekor kerbau saya angonkan di kebun sawit saya yang lahannya kelas tiga itu,” kata Sudarma Hadinata, petani sawit swadaya di Provinsi Bangka Belitung (Babel).

Penasehat DPW Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) Babel ini mengungkapkan, kondisi 14 hektar kebun sawitnya itu terdiri dari lapisan atas berupa tanah humus setebal 10 sentimeter namun di bawahnya merupakan tanah semi kaolin atau tanah keras yang tak bisa ditembus air.

Akibatnya, semua tanaman sawit miliknya mayoritas mengalami gejala defisiensi fosfor yang dapat dikenali dari penampakan batang pohon yang mengecil ke atas atau seperti bentuk piramida.

“Kalau kemarau kebun sawit saya kering, kalau musim penghujan justru banjir. Aerasinya sangat kencang, sehingga kadang- kadang pengembalian pH agak susah,” kata Sudarma.

Kehadiran kerbau yang dibiarkan membuang kotoran sembarangan diharapkan memperbanyak mikroba guna membantu proses penetrasi humus ke dalam tanah.

“Saya masukkan ternak kerbau ke dalam kebun sawit agar langsung buang kotoran di situ. Nah, rorak atau parit buntu jadi semacam WC bagi kerbau. Jadi enggak ke mana-mana manfaatnya,” kata pria yang mulai menanam sawit di tahun 2009 ini.

Kata Sudarma, cara itu harus dilakukan karena Pulau Bangka yang dikenal sebagai kawasan tambang timah, kualitas tanahnya ekstrim atau keras.

Saat ini upaya yang dilakukannya mulai menunjukan hasil. pH tanah yang dulu 3-4, kini menjadi 6 atau 6,5. Tanah memiliki pH netral bila berada di angka 7. Di bawah 7 berarti tanah bersifat asam, sedangkan jika di atas 7 maka tanah bersifat basa.

“Selain itu, jika dulu hujan langsung banjir, maka kini banjir berkurang dan tanah terlihat mengkilap sehabis hujan,” katanya.

“Bibit sawit yang saya pakai bukan main-main, SP 540 dan DxP Simalungun produksi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Tapi karena lahan kebun saya memang keras, pertumbuhannya harus dibantu. Dengan menggunakan pendekatan organik ini, kondisi tanah saya sudah mendekati normal,” kata Sudarma.

Selain itu, perkembangan tajuk dan defisiensi fosfor sudah mengarah ke perbaikan, posisi pelepah sudah memendek dan ke bawah. Saat panen, Sudarma juga tak lagi menggunakan sistem songgo untuk memotong pelepah sawit.

“Pokoknya saat memanen buah, saya lakukan pruning, sikat habis. Kayak sistem pruning di Malaysia saya buat. Jadi saya enggak main dongkel-dongkel buah lagi,” jelas Sudarma.

Leave a Comment