Catat Nama-nama PKS yang Curang!

Teks Foto: Ketua Umum DPP Asosiasi SAMADE, Tolen Ketaren, meminta para anggota dan pengurus SAMADE di berbagai daerah untuk terus mencatat dugaan kecurangan pembelian harga TBS di tingkat toke sawit dan kemudian, jika memungkinkan, melaporkan hal itu ke aparat penegak hukum (APH) atau pemerintah daerah setempat. (sumber foto: dokumentasi SAMADE)

SAMADE – Dugaan kecurangan penerapan harga pembelian tandan buah segar (TBS) produksi petani sawit yang dilakukan oleh pihak agen pengepul, Ram, atau pun pihak pengusaha kelapa sawit (PKS) terus muncul.

Pasalnya, sejak pidato singkat Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebutkan akan melarang ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), dalam hal ini adalah tiga pos tarif dari RBD Palm Olein, beberapa waktu lalu, serentak harga TBS turun secara mendadak.

Ketua Umum DPP Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE), Tolen Ketaren, mengaku curiga dengan hal ini.

Ia melihat penurunan harga TBS tidak alami, melainkan by design, ada yang merancang.

Karena itu ia secara tegas meminta aparat penegak hukum (APH) untuk mengusut dugaan permainan harga pembelian TBS ini karena sudah sangat merugikan para petani sawit.

“Enggak masuk akal kami selaku petani sawit swadaya. Kebijakan pemerintah soal stop ekspor minyak goreng dan RBD Olein itu kan direncanakan berlaku mulai Kamis (28/4/2022), tapi kenapa sejak pekan lalu harga TBS kami anjlok di PKS, ram, atau pun agen pengepul,” kata Tolen seperti dilansir laman elaeis.co.

Kata dia, anjloknya harga TBS bukan hanya per hari, bahkan dalam hitungan jam bisa terus merosot.

Teks Foto: Ketua Umum DPP Asosiasi SAMADE, Tolen Ketaren, saat melakukan konsolidasi dengan sejumlah anggota dan pengurus SAMADE beberapa waktu lalu. (sumber foto: dokumentasi SAMADE)

Berdasarkan laporan dari basis-basis SAMADE di berbagai daerah di Indonesia, Tolen menyebutkan penurunan harga sekarang bahkan sudah melewati level psikologis, anjlok lebih dari Rp 1.400 dari harga sebelumnya.

“Banyak laporan ke kami kalau sekarang harga TBS ada yang hanya Rp 1.200/kg,” kata Tolen.

Jutaan petani sawit swadaya sangat resah dengan kondisi harga sawit saat ini. Karena itu ia berharap APH mau turun tangan mengusut kekacauan harga TBS yang sepertinya sengaja diciptakan oleh pengusaha dan toke sawit.

Pihaknya juga berharap Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) turun tangan atas persoalan yang dihadapi para petani sawit swadaya di seluruh Indonesia.

“Jujur saja kami tak tahu lagi harus ngomong apa. Kami tak tahu lagi harus mengadu ke siapa. Tolonglah APH periksa hal ini. Atau siapapun lembaga yang berkompeten, tolong adukan persoalan harga TBS ini, entah ke pihak kepolisian atau kejaksaan. Tolonglah kami yang telah dipermainkan pihak pengusaha sawit ini,” tegasnya.

Ia meminta para anggota dan pengurus SAMADE di semua tingkat, baik kecamatan, kabupaten, maupun provinsi dan pusat, untuk mencatat pergerakan harga TBS yang terus merosot dibuat oleh toke-toke sawit.

“Catat semua aksi penurunan harga TBS yang dibuat oleh toke-toke sawit itu. Catat nama-nama PKS itu, juga agen pengepul atau Ram. Lalu kalau memungkinkan, kita laporkan mereka ke APH ataau kita adukan mereka ke Bupati atau Walikota atau pun Gubernur di daerah masing-masing,” kata Tolen.

Ia menegaskan penzoliman pihak toke sawit terhadap petani sawit harus diakhiri.

“Mereka bukan saja melawan pemerintah, tetap juga menyakiti kita para petani sawit. Kita tak boleh berdiam diri saja. Kita harus akhiri kecurangan mereka,” tegas Tolen Ketaren.

Leave a Comment