Dahsyat, Perkebunan Sawit Thailand Sudah Diperhatikan Raksasa Eropa

Pihak RSPO dan GIZ Jerman terus memberikan perhatian kepada perkembangan petani sawit skala kecil di Thailand agar bisa memberikan kontribusi yang lebih besar pada ketahanan pangan global. (Sumber foto: RSPO)

SAMADE – Ada dua jiran kita yang memiliki perkebunan kelapa sawit nomor dua dan tiga terbesar di dunia, yakni Malaysia dan Thailand. Kalau soal sawit Malaysia, mungkin banyak dari kita yang sudah tahu.

Namun kalau perkebunan sawit di negara Gajah Putih itu bagaimana? Ini yang menarik untuk disimak oleh Indonesia selaku raksasa sawit skala global.

Berdasarkan laporan yang terbaru dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), disebutkan perkembangan industri sawit di Thailand itu sudah mendapatkan perhatian Organisasi Jerman untuk Kerjasama Internasional atau Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ).

Hal ini ditandai dengan sebuah pertemuan yang digelar di Bangkok, ibukota Thailand, Selasa(31/5/2022), antara para pembuat kebijakan dan pelaku bisnis Thailand yang berkumpul untuk Forum Bisnis Kedua yang diselenggarakan bersama oleh RSPO dan GIZ.

Pertemuan itu membahas hal yang cukup krusial, yakni membahas peran vital Thailand dalam memastikan ketahanan pangan serta memenuhi permintaan global akan minyak nabati yang berkelanjutan melalui peningkatan praktik pertanian, produksi, dan standar sertifikasi global seperti RSPO.

Ini tentu topik pembicaraan yang berat sekaligus menunjukkan betapa Thailand sudah mengalami kemajuan yang pesat dalam industri perkebunan kelapa sawit.

Sebagai produsen minyak sawit terbesar ketiga di dunia, potensi pengembangan Thailand untuk minyak sawit berkelanjutan bersertifikat (CSPO) cukup signifikan.

Peran serta para pemangku kepentingan industri sawit di Thailand dinilai dapat sangat bermanfaat dalam memastikan ketahanan pangan global bagi penduduk dunia yang diperkirakan tumbuh mencapai 9,8 miliar jiwa pada tahun 2050.

Lalu, seberapa besar peran petani dalam industri sawit di Thailand? RSPO mencatat petani sawit swadaya skala kecil bahkan menyumbang lebih dari 70% dari produksi minyak kelapa sawit di Thailand.

Namun sama seperti di Indonesia, para petani sawit ini kekurangan kesempatan untuk mengakses program keuangan mikro, keterampilan dan pengetahuan tentang pertanian berkelanjutan, serta standar sertifikasi, yang akan memungkinkan mereka mengakses pasar global.

Nah, situasi inilah yang membuat Departemen Pertanian Thailand bergabung dengan GIZ melalui proyek produksi dan pengadaan minyak sawit berkelanjutan dan ramah iklim (SCPOPP).

Melalui proyek ini, 19 perusahaan kelapa sawit di Thailand telah dilibatkan untuk mendukung dan melatih lebih dari 3.000 petani kecil kelapa sawit dalam praktik pertanian berkelanjutan.

Pelatihan itu tidak main-main, sebab telah menghasilkan lebih dari 200 petani yang menjadi pelatih.

Mereka telah menjalani pelatihan sendiri dan kemudian berhasil melatih dan terlibat dengan lebih dari 3.000 petani sawit swadaya lainnya.

Selain itu, pada tahun 2021, 400 petani kecil mendapatkan sertifikasi RSPO dan berhasil terhubung ke pasar global, dan 1.500 petani kecil lainnya saat ini sedang dilatih dan diharapkan mencapai sertifikasi pada akhir tahun 2022.

Yang membuat cerita perkebunan sawit di Thailand semakin menarik adalah adanya peran aktif pemerintah dalam membantu perkembangan petani sawit.

Pihak Kementerian Pertanian Thailand bahkan bekerja bersama dengan RSPO guna meningkatkan standar produksi minyak sawit berkelanjutan di Thailand.

Pihak Biro Standar Komoditas dan Pangan Pertanian Nasional (NIDA) Thailand juga dilibatkan dan telah menetapkan empat standar pada komoditas pertanian yang terkait dengan kelapa sawit.

bahkan, Kementerian Pertanian Thailand menjadi motor pembentukan dari Aliansi Minyak Sawit Berkelanjutan Thailand yang beranggotakan banyak pihak, baik pengusaha maupun petani sawit dan unsur masyarakat sipil lainnya.

Ketua Eksekutif Harian RSPO, Joseph (JD) D’Cruz memuji Thailand karena telah membantu memastikan ketahanan pangan global sebagai produsen minyak sawit terbesar ketiga di dunia.

Dia bilang Thailand sungguh berbeda. Ini terjadi karena negara Gajah Putih itu menguatkan kapasitas petani kecil sehingga mampu mendorong industri minyak sawit di Thailand.

RSPO, kata D’Cruz, mengakui peran integral petani kecil dalam mencapai visi transformasi pasar secara keseluruhan. Pihaknya juga berupaya memastikan inklusi para petani sawit agar bisa lebih besar dalam solusi berkelanjutan.

Sebab, kata dia, memberikan dampak positif pada mata pencaharian para petani sawit menjadi salah satu tujuan utama RSPO.

“Kami melihat ini sebagai tanggungjawab bersama yang harus didukung oleh semua pemain dalam rantai pasokan minyak sawit,” kata D’Cruz.

Yang menarik, Country Director GIZ untuk Thailand dan Malaysia, Reinhold Elges, memastikan industri sawit di Thailand sama sekali tidak memberikan dampak negatif atau tidak menimbulkan kerusakan hutan dan dugaan pelanggaran hak azasi manusia (HAM).

Kata dia, problem di Thailand itu cuma satu, yakni industri belum efesiennya kinerja para petani sawit swadaya skala kecil.

Karena itu tidak heran kalau Reinhold Elges turut mendorong pelibatan dan peningkatan kapasitas petani sawit agar meraih sertifikat RSPO.

Ia menilai hal ini sebagai tanggungjawab bersama yang layak dan itu berarti meningkatkan industri minyak sawit

Thailand untuk memenuhi pasar serta membantu mengamankan pasokan pangan global, sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap iklim dan lingkungan.

Leave a Comment