Dahsyat!! Pertamina Segera Olah Biomassa Berbahan Sawit

Teks Foto: PT Pertamina (Persero) akan segera mengubah kilang minyak yang mereka miliki untuk diubah menjadi pengolah biomassa berbahan sawit dan menghasilkanbahan bakar nabati (BBN) yang ramah lingkungan. (sumber foto: liputan6.com)

SAMADE – Langkah maju dan dashyat kembali dilakukan PT Pertamina (Persero), sebuah badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang tambang dan minyak. Dalam waktu dekat, Pertamina akan mengolah biomassa berbahan sawit untuk menjadi bahan bakar nabati (BBN).

Dari laman liputan6.com yang diakses SAMADE, Kamis (15/7/2021), yang menyampaikan rencana ini adalah Nicke Widyawati, sosok perempuan tangguh yang dipercaya pemerintah menjadi Direktur Utama Pertamina.

Kata dia, Pertamina akan mengalihfungsikan kilang minyak yang saat ini mengolah bahan bakar minyak (BBM) menjadi kilang hijau (green refinery) agar bisa biomassa dari kelapa sawit.

Langkah ini, kata Nicke Widyawati, adalah dalam rangka mendukung penggunaan energi hijau.

“Kami akan melakukan konversi dari kilang yang ada mejadi green refinery yang sifatnya menghasilkan biomassa dari kelapa sawit,” kata Nicke Widyawati.

Bos Pertamina ini akan mengoptimalkan alihfungsi kilang ini dengan pengolahan sawit. Sebagaimana diketahui, Indonesia menjadi salah satu penghasil sawit ternama di dunia.

“Kita bangun beberapa lokasi lain, nanti kita optimalkan sawit yang ada di Indonesia,” kata dia. Untuk itu, sawit bisa menjadi salah satu energi pokok yang bisa digunakan untuk substitusi energi dan transportasi.

“Sawit bisa jadi salah satu energi pokok untuk subtitusi transportasi atau (penggunaan) energi,” kata dia. Pada tahun 2025 direncanakan akan terkonversi 6-100 KTPA kilang biasa menjadi kilang hijau.

Pembangunan kilang ini akan dilakukan di beberapa lokasi. Selain itu Pertamina juga akan meningkatkan kapasitas pembangkit bio energi.

Terdiri dari biogas 153 MW, bio blending gasoil & gasoline, blocrude, dan ethanol 1,000 KTPA on stream pada tahun 2025.

Realiasasi tersebut diperkirakan akan membantu Indonesia untuk tidak lagi mengimpor gasolin, meskipun saat ini kontribusi penggunaanya baru mencapai 25 persen.

“Dari itu semua, pemerintah pada tahun 2030 nanti kita sudah tidak ada lagi impor gasolin,” kata dia. Selain itu Pertamina juga akan meningkatkan kapasitas pembangkit bio energi.

PT Pertamina (Persero) sedang mengembangkan kilang minyak sawit (crude‎ palm oil/CPO), yang akan menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan, sehingga dapat mengurangi impor minyak.

Sebelumnya, tepatnya di bulan Pebruari 2019, Nicke Widyawati juga mengungkapkan kalau ‎kilang minyak sawit atau biorefinery telah dikembangkan Pertamina bekerjasama dengan LAPI ITB.

Tujuannya adalah untuk menyerap minyak sawit dalam negeri. Kilang ini kemudian menghasilkan katalis merah putih sebagai bahan untuk memproduksi biofuel, biodiesel dan bioavtur.

“Rencana tindak lanjut untuk meng-improve produktivitas lahan CPO milik petani atau rakyat,” kata Nicke saat itu, Jumat (22/2/2019).

Nicke menuturkan, pro‎gram itu untuk mendukung pelaksanaan campuran 20 persen dengan solar (B20). Dari fasilitas pengolahan minyak sawit ini Pertamina bisa mengurangi minyak sebesar 23 ribu barel per per hari.

Biorefinery project merupakan implementasi program diversifikasi energi melalui produksi biofuel untuk mencapai bauran EBT 23 persen di tahun 2025,” tutur dia.

Produk yang dihasilkan dari infrastruktur tersebut adalah greendiesel yang memiliki cetane number paling tinggi di antara fosil diesel, biodiesel fame, sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna.

Dibanding minyak diesel dan fame biodiesel, greendiesel adalah yang paling ramah lingkungan karena ‎energi produksi sangat rendah serta emisi paling kecil.

Ini baru namanya BUMN. Berguna bagi rakyat, termasuk petani sawit swadaya, berguna juga bagi bangsa, dan selalu mendukung perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Bravo Pertamina, Bravo sawit!!!

Leave a Comment