Data ITC Trademap: Indonesia Serba “Ter” di Sawit

Teks Foto: Seorang petani sawit dari Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, bernama Fery Harianja tampak bahagia dengan hasil panen sawitnya. Menurut ITC Trademap, Indonesia telah menjadi raja, menjadi serba “ter” dalam industri sawit global. (sumber foto: dokumentasi pribadi)

SAMADE – Data terbaru yang dilansir oleh ITC Trademap, sebuah lembaga pemetaan perniagaan global menunjukan Indonesia telah menjadi negara yang serba “ter” dalam urusan perkebunan kelapa sawit. Contoh, disebutkan Indonesia telah menjadi raja produsen minyak sawit sejak tahun 2006 menggeser Malaysia.

Seperti dilansir laman palmoilina.asia dan diakses SAMADE, Kamis (11/11/2021), disebutkan selain menjadi produsen terbesar, data ITC Trademap menunjukkan bahwa Indonesia juga berhasil menjadi eksportir banyak turunan minyak sawit seperti minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan Refined Palm Oil/RPO).

Pangsa pasar Indonesia bahkan mencapai 31 persen pada tahun 2020. Selain mengekspor minyak sawit dalam bentuk crude dan refined, Indonesia juga mengekspor produk olahan berbasis sawit seperti minyak goreng (dan oleofood lainnya), oleokimia dan biodiesel.

Jika dilihat dari nilai ekspor produk sawit dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang cukup signifikan bahkan laju pertumbuhannya mencapai lebih dari 2000 persen per tahun.

Nilai ekspor produk sawit tahun 2000 hanya sebesar USD 1.08 miliar kemudian meningkat menjadi USD 16.3 miliar pada tahun 2010 dan terus meningkat menjadi USD 22.9 miliar pada tahun 2020.

Bahkan eksistensi industri sawit dalam menghasilkan devisa ekspor teruji pada berbagai kondisi ketidakstabilan ekonomi.

Misalnya pada krisis finansial global tahun 2008, industri sawit mampu bertahan dan tetap berkontribusi menghasilkan devisa ekspor sebesar USD 15.4 miliar.

Meski pun devisa ekspor produk sawit mengalami penurunan menjadi USD 12.1 miliar tahun 2009, namun kinerja ekspor produk sawit kembali meningkat menjadi USD 16.3 miliar tahun 2010.

Krisis ekonomi global yang ditimbulkan akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2020, juga semakin membuktikan eksistensi industri sawit sebagai sumber devisa Indonesia.

Nilai ekspor produk sawit (mencakup CPO dan RPO, Crude dan Refined PKO, biodiesel dan oleokimia) pada tahun 2020 mencapai USD 22.9 miliar atau sebesar Rp 321.5 triliun (dengan kurs Rp 14,000).

Devisa ekspor produk sawit di tahun 2020 bahkan lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum pandemi yakni hanya sebesar USD 20.2 miliar pada tahun 2019.

Kinerja ekspor produk sawit yang sangat berkilau di tahun 2020 juga berhasil membawa produk sawit menyandang predikat sebagai kontributor utama devisa ekspor Indonesia.

Bahkan devisa ekspor yang dihasilkan produk sawit di tahun tersebut lebih besar dibandingkan dengan devisa ekspor yang dihasilkan oleh produk migas dan produk tambang.

Tidak hanya itu, industri sawit juga turut berkontribusi terhadap pecahnya rekor surplus neraca perdagangan tertinggi sejak 2011.

Prestasi tingginya devisa ekspor produk sawit kembali terjadi pada tahun 2021. Tercatat nilai ekspor produk sawit periode Januari-Agustus 2021 mencapai USD 23.4 miliar.

Devisa ekspor pada periode ini lebih tinggi sebesar 71.6 persen dibandingkan dengan Januari-Agustus 2020 atau sebesar 1.7 persen dibandingkan sepanjang tahun 2020.

Jika dibandingkan tahun 2020, besarnya devisa ekspor produk sawit karena peningkatan harga minyak sawit global khususnya pada produk CPO dan RPO.

Sementara itu volume ekspor kedua produk sawit tersebut justru mengalami penurunan sebagai dampak dari lemahnya demand global.

Namun tren peningkatan ekspor produk sawit yang positif pada tahun 2021 tidak hanya disebabkan peningkatan dari segi harga akibat booming price yang terjadi.

Namun juga disebabkan karena peningkatan volume ekspor yang disebabkan akibat krisis energi yang terjadi di India dan China.

Berkat prestasinya yang sangat menonjol sebagai pahlawan devisa ekspor yang turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa pandemi, menjadikan industri sawit nasional diposisikan sebagai industri strategis yang memiliki peran dalam pemulihan ekonomi nasional pasca-pandemi.

Oleh karena itu, untuk memperkuat dan memperbesar peran sawit sebagai pahlawan devisa Indonesia yang bermanfaat bagi pemulihan ekonomi nasional, diperlukan komitmen dan upaya yang kuat dari stakeholder maupun masyarakat Indonesia.

Tujuannya adalah untuk menciptakan iklim usaha industri sawit nasional yang kondusif melalui citra sawit positif serta perbaikan tata kelola yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Leave a Comment