Di Swiss, Menteri Perdagangan Bilang Biarlah Petani Menikmati Keuntungan. Nyatanya …

Teks Foto: Menteri Persagangan M Lutfi (dua dari kiri) saat ikut dalam sebuah perdebatan di Davoss, Swiss. (Sumber Foto: Kemendag RI)

SAMADE – Beberapa waktu yang lalu, Menteri Perdagangan Republik Indonesia M Lutfi berada di Kota Davoss, Swiss, untuk berbicara dalam salah satu panel diskusi yang disponsori Channel News Asia (CNA) dari Singapura bertema “The Biggest Trade Deal in the World”.

Menurut keterangan resmi Kementerian Perdagangan, Mendag M Lutfi berbicara tentang banyak hal, terutama tentang perdagangan yang adil, tidak ada standar ganda antara satu negara dengan negara lainnya.

Yang menjadi sorotan dalam tulisan ini adalah saat Mendag menyebutkan tingginya harga berbagai komoditas dunia saat in adalah peluang bagi para petani di negara-negara berkembang besar seperti Indonesia, India, Brasil, dan Tiongkok untuk menikmati keuntungan lebih.

Di laman resmi Kemendag itu bahkan disebutkan Mendag sempat berdebat cukup tegang dengan panelis lainnya yaitu Tak Miinami selaku CEO Suntory Holdings, salah satu produsen makanan dan minuman terbesar di dunia asal Jepang.

Bapak dan Ibu petani sawit yang baik, mari kita fokuskan perhatian kembali pada pernyataan Mendag M Lutfi yang menyebutkan “tingginya harga berbagai komoditas dunia saat ini adalah peluang bagi para petani”.

Pertanyaannya, apakah benar pemerintah kita dua bulan terakhir membiarkan kita, para petani, menikmati tingginya harga berbagai komoditas sawit di dunia?

Bukankah yang kita alami dua bulan terakhir justru kebalikannya?

Harga pembelian tandan buah segar (TBS) per kilogram produksi petani sawit swadaya dibiarkan nyungsep sedalam-dalamnya.

Bahkan setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencabut kebijakan larangan ekspor berbagai produk turunan minyak sawit, harga TBS juga tidak langsung naik.

Pasalnya, proses ekspor pun ternyata dipersulit, banyak syarat yang harus dipenuhi oleh para pengusaha. Akibatnya sudah bisa ditebak, para pengusaha sawit berfikir ulang untuk banyak-banyak beli TBS petani.

Atau, pengusaha sawit tetap berusaha keras menahan sekuat mungkin harga TBS produksi petani sawit swadaya agar tetap bertahan rendah. Akibatnya, harga TBS petani tetap nyungsep kan?

Atau, Pak Mendag M Lutfi sebenarnya sedang berbicara tentang petani apakah gerangan? Apakah di luar perkebunan sawit? Atau, kalau termasuk berbicara tentang petani sawit, petani sawit di negara manakah yang beliau maksud?

Entahlah, kita tak tahu petani sawit di negara mana yang dimaksud Mendag yang menikmati harga komoditas yang tinggi itu.

Mungkin kita sedang dibiarkan untuk mengikuti saran Ebiet G Ade agar bertanya kepada “rumput yang bergoyang”.

Leave a Comment