Ini Tekad DPW Asosiasi SAMADE Babel

Teks Foto: Kalau punya cita-cita, jangan tanggung. Mungkin prinsip ini yang sedang dijalankan oleh DPW Asosiasi SAMADE Provinsi Bangka Belitung (Babel). Para penasehat dan pengurus SAMADE Babel bertekad untuk membangun pabrik kelapa sawit (PKS) skala mini secara swadaya. (sumber foto: ptki.ac.id)

SAMADE – Boleh jadi keberadaan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) lebih muda secara usia dibanding cabang SAMADE laqinnya. Namun untuk soal tekad memajukan SAMADE dan para petani sawit swadaya, jangan pernah ragukan SAMADE Babel.

Dikutip dari laman Elaeis.co, disebutkan tekad para petani sawit yang tergabung dalam DPW Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) Provinsi Bangka Belitung (Babel) ini tak tanggung-tanggung. Mereka mau membangun pabrik kelapa sawit (PKS) mini secara swadaya.

Jika terwujud, maka para petani akan mendapatkan nilai tambah karena hasil panen mereka tak lagi dijual dalam bentuk mentah tapi sudah berwujud minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

“Apalagi kabarnya tak lama lagi akan dibangun satu pabrik refinery minyak sawit skala besar di Bangka. Katanya investornya dari Kota Medan, tapi tak tahu siapa namanya. Yang pasti rencana pembangunan pabrik itu sudah santer terdengar,” kata Penasehat DPW SAMADE Babel, Sudarma Hadinata, Jumat (12/11/2021).

Sekadar informasi, pabrik refinery adalah pabrik yang melakukan proses pemurnian lewat tahapan penyulingan, pemucatan, dan penghilangan bau untuk mendapatkan produk yang memiliki warna yang lebih cerah dan tidak memiliki rasa.

Menurut Sudarma, para petani sawit di Babel sudah lama mendambakan kehadiran PKS mini yang mampu mengangkat kesejahteraan mereka. Jika pembangunan PKS mini terwujud, dia yakin CPO yang dihasilkan bisa dijual ke pabrik refinery itu.

“Kami ingin menjadi petani sawit pelopor yang mampu membangun PKS mini yang simple dan smart. Soal bahan baku, kawan-kawan SAMADE Babel yang mengelola 100 hektar kebun sawit siap memasoknya,” katanya.

Sebagai orang yang memahami masalah permesinan, menurut Sudarma, PKS mini yang hendak dibangun tak perlu memiliki kapasitas produksi CPO yang besar.

“Kapasitasnya diperkecil, namun sistemnya sama dengan di PKS besar. PKS milik perusahaan saja bisa bangkrut karena terlalu besar kapasitasnya dan berjalan tidak efektif,” katanya.

Keinginan membangun PKS mini itu, katanya, telah dibicarakan secara mendalam dengan Ketua SAMADE Babel, Indra Sanjaya, dan sejumlah pengurus lainnya beberapa waktu lalu. Saat dihubungi terpisah, Indra mengakui pembicaraan tersebut.

Indra mengaku sangat bergairah mendengar ide itu. “Tetapi yang saya bayangkan, pastilah PKS mini membutuhkan dana yang tidak sedikit, jaminan pasokan buah sawit yang kontiniu, serta komunikasi yang oke dengan pihak refinery sebagai penampung CPO produksi kami,” kata Indra.

Belum lagi persoalan bagaimana mengelola tandan kosong (tankos) dan cangkang hasil dari sisa pengolahan buah sawit di PKS mini. Sebab, tankos dan cangkang sawit bisa dijual sehingga bisa menambah pundi-pundi SAMADE Babel.

“Kalau soal mesin, saya pribadi sangat yakin dengan pengalaman dan pengetahuan Pak Sudarma. Tapi yang begini ini kan harus direncanakan dengan baik, mungkin kami perlu beberapa kali pertemuan lagi untuk mematangkan niat ini,” tegasnya.

Leave a Comment