Jangan Takut Beternak di Kebun Sawit

Teks Foto: Surianto, Ketua DPD Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) Kabuopaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, saat membantu persalinan seekor sapi betina miliknya beberapa waktu lalu. (sumber foto: elaeis.co/repro dari dokumentasi Surianto)

SAMADE – Para petani sawit swadaya sebaiknya punya penghasilan tambahan yang mampu menopang pendapatan mereka selain dari sawit. Kalau bisa, penghasilan tambahan itu diperoleh dari usaha yang tak jauh dari perkebunan sawit yang dikelola sang petani sawit.

Misalnya memelihara ternak, entah sapi atau kambing, di kawasan perkebunan sawit. Apalagi pemerintah sendiri telah mendorong adanya perpaduan antara perkebunan sawit dengan peternakan yang disebut dengan sistem integerasi ternak sapi dan perkebunan kelapa sawit (SISKA).

Namun belakangan muncul pendapat yang menyebutkan realisasi wacana integrasi peternakan sapi di perkebunan sawit berpotensi memunculkan jamur atau ganoderma.

Seperti dilansir Elaeis.co, tuduhan itu mengatakan hewan ternak disebut-sebut berperan menyebarkan ganoderma yang bisa mematikan tanaman sawit milik petani sawit swadaya.

“Inilah terkadang petani sawit kita ini, salah persepsi. Sebenarnya ganoderma itu di mana-mana ada. Enggak mesti di sawit, di tanaman karet pun ada ganoderma,” kata Surianto, petani sawit swadaya asal Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan.

Bahkan, kata Ketua DPD Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) Kabupaten Muratara ini, perkebunan sawit yang dikelola oleh perusahaan yang tak memiliki peternakan hewan apa pun dan lokasinya jauh di pedalaman, juga terkena ganoderma.

Kata dia, kalau ternak sapi diternakkan dengan cara dibiarkan atau diliarkan, maka kemungkinan memang bisa menyebarkan ganoderma.

Sebab, sapi atau kambing yang tak sengaja menginjak spora ganoderma akan membawanya ke kebun sawit lainnya.

Namun penyebaran ganoderma bisa diminimalisir kalau ternak hewan itu dikandangkan, tidak dilepasliarkan.

Ia sendiri mempraktekan peternakan sapi dan kambing dengan cara dikandangkan di kebun sawit miliknya di Desa Macang Sakti, Kecamatan Sanga Desa, Musi Banyuasin (Muba).

Ia mengaku punya lebih 12 hektar kebun sawit di Kecamatan Rawas Hilir, Kabupaten Muratara, dan lebih 10 ha di Desa Macang Sakti.

“Yang di Rawas Hilir merupakan lahan plasma dan dapat sertifikat RSPO dan tergabung dalam KUD Sumber Rezeki. Yang di Macang Sakti ini swadaya murni, di sini saya memelihara 11 ekor sapi dan lebih 40 ekor kambing,” jelas Surianto.

Ia juga menepis anggapan kalau burung, terutama burung Jalak, akan membawa ganoderma ke pohon sawit selepas hinggap di punggung lembu atau sapi, baik yang dikandangkan ataupun dilepasliarkan.

Ia justru menyebut burung Jalak sebagai hewan yang membersihkan berbagai kutu yang ada di punggung dan ekor sapi atau lembu dan tidak membawa terbang ganoderma saat hinggap di pohon sawit.

“Inilah yang disebut simbiosis mutualiasme, kerja sama antara sesama hewan,” ujarnya.

“Burung Jalak juga sangat jarang memijak tanah sehingga kecil kemungkinan membawa ganoderma ke pohon sawit,” tambahnya.

Itu sebabnya ia mengajak para petani sawit untuk mengintegrasikan hewan ternak dengan cara dikandangkan. “Jangan mudah termakan hoaks ganoderma di kebun sawit karena disebarkan oleh hewan ternak,” tandasnya.

Dapat Untung Banyak
Sejak menerapkan SISKA tiga tahun lalu, Surianto mengaku mendapatkan penghasilan tambahan yang lumayan di luar penghasilan dari perkebunan sawit.

“Model peternakan saya penggemukan sapi jantan. Saya juga melakukan sistem jual beli. Artinya, saya jual kalau ada orang butuh sapi, pas giliran ada orang yang ingin jual sapinya, ya saya beli,” katanya.

Ternak sapinya dijual sesuai kebutuhan pasar lokal. Itu sebabnya Ketua KUD Sumber Rezeki Muratara ini baru bisa menjual sapinya satu atau dua bulan sekali.

Jika ada warga yang membuat hajatan dan membutuhkan sapi pedaging, Surianto bisa menyediakannya.

Teks Foto: Surianto menerapkan sistem integerasi sapi dan tanaman kelapa sawit (SISKA). Karena itu tidak heran kalau ia berhasil merawat kebun sawit sekaligus ternak sapi dan kambing miliknya. (sumber foto: elaeis.co/repro dokumentasi Surianto)

“Biasanya sekali dalam dua bulan ada aja yang pesan sapi pedaging kita. Kalau yang begitu biasanya saya jual sekitar Rp 10 juta atau Rp 15 juta per ekor,” kata petani plasma binaan Yayasan Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) ini.

Saat momen Hari Raya Kurban, ia mengaku bisa dapat untung lebih banyak. “Jualnya mulai Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per ekor sapi kualitas super,” ungkapnya.

Selain sapi, ia juga beternak kambing dan ayam. Sama seperti sapi, semua ternak kambingnya dipelihara dalam kandang.

Sedangkan ternak ayamnya dibiarkan bebas berkeliaran di pekarangan dan kebun sawit.

“Ah, kalau ternak ayam saya itu ibaratnya untuk pemanis saja. Maksud saya, bukan untuk dijual, untuk konsumsi keluarga kalau ada acara. Misal, kayak sekarang ini anak saya baru pulang dari pondok pesantren, liburan, ya saya potonglah beberapa ekor untuk kami makan,” katanya.

Sedangkan kambing, Surianto mengaku bisa menjual antara Rp 2,5 juta sampai Rp 4,5 juta per ekor.

“Tiap bulan kambing saya bisa terjual lima atau enam ekor. Tapi yang paling saya tunggu adalah momen Hari Raya Kurban, karena di situ bisa terjual sampai puluhan ekor,” tukasnya.

Leave a Comment