Kementerian ESDM Tertarik Kembangkan Miko untuk Gantikan LNG Industri

Teks Foto: Pemanfaatan minyk kotor (miko) sawit yang akan dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai pengganti LNG untuk industri membuktikan bahwa tanaman kelapa sawit memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Sebab, jangankan tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan, bahkan limbahnya pun bisa dikelola lagi untuk hal yang juga sangat bermanfaat. (sumber foto: Riau Pos)

SAMADE – Minyak kotor atau yang biasa disebut miko kini mulai dilirik oleh Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk dikembangkan menjadi bahan baku pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk industri.

Dari laman Kementerian ESDM yang diakses SAMADE, Senin (12/7/2021), disebutkan pihak Dirjen EBTKE terus mendorong pengembangan miko atau yang memiliki nama keren biogas itu, untuk menjadi Biomethane-Compressed Natural Gas (Bio-CNG).

Enggak tanggung-tanggung, pengembangan itu diharapkan oleh Dirjen EBTKE harus bisa dalam skala komersial dan massif untuk dipergunakan sebagai bahan bakar transportasi. Selain itu, kelak dapat difungsikan sebagai pengganti LNG untuk dipasok ke industri yang membutuhkan.

Pengembangan Bio-CNG ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan kontribusi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional.

Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, menjelaskan Bio-CNG merupakan pemurnian biogas (pure methene) dengan memisahkan komponen karbon dioksida (CO2) dan karbontetraoksida (CO4) serta menghilangkan komponen gas imperitis lainnya untuk menghasilkan gas metan dengan kadar di atas 95 persen.

“Karakteristik dari biometan ini menyerupai dengan CNG. Pengembangan biometan dapat dipakai untuk sektor non listrik”, kata Feby. Ia yakin sumber bahan baku bio-CNG sangat beragam.

Namun, kata Feby, sebagai negara penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan sumber daya alam, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan limbah CPO, limbah pertanian, dan peternakan menjadi biogas serta biomethane.

“Manfaatnya (Bio-CNG) cukup signifikan karena saat ini Indonesia masih mengimpor LPG dalam jumlah besar serta sumber bahan baku untuk memproduksi Bio CNG cukup beragam,” ungkap Feby.

Dalam mendorong pengembangan bio-CNG, Kementerian ESDM bersama Global Green Growth Institute (GGGI) telah melakukan studi pasar pengembangan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Studi itu akan segera dilanjutkan dengan pendampingan teknis untuk persiapan implementasi pembangunan bio-CNG.

“Walau kita punya potensi bio-CNG cukup besar, tapi belum bisa berkembang komersial. Banyak tantangan yang menjadi tugas kita bersama, baik dari sisi kebijakan keekonomian, teknik, dan tata niaga,” kata Feby.

Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Bioenergi, Efendi Manurung, memaparkan, pengembangan Bio-CNG lebih difokuskan pada transfer teknologi serta mendorong keterlibatan peneliti dan penggiat teknologi untuk berinovasi dalam pengembangan biogas.

“Untuk infrastruktur Bio-CNG saat ini relatif belum ada, belum terimplementasikan, tetapi kita masih tahap koordinasi mendorong, memfasilitasi, dan menyusun regulasi yang berkaitan dengan percepatan implementasi pemanfaatan Bio CNG”, ujar Efendi.

Ke depan apabila dibutuhkan infrastruktur untuk implementasi Bio CNG tersebut terdapat peluang untuk dilakukan.

Pembangunan jaringan gas (jargas), program infrastruktur yang dilakukan oleh Ditjen Migas, tidak mustahil dibangun untuk Bio CNG, apabila sudah mendesak atau perlu dilakukan fasilitasi implementasi Bio CNG untuk kebutuhan rumah tangga.

“Potensi biogas sangat besar dengan pemanfaatan limbah pertanian dan kotoran hewan. Kita dapat menekan impor LPG dengan menggunakan biogas. Selain itu, ada nilai tambah dari aspek lingkungan,” ungkap Efendi.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan CNG Indonesia (APCNGI), Dian Kuncoro, mengungkapkan proses distribusi dan infrastruktur pemanfaatan CNG membutuhkan biaya investasi yang lebih mahal dibandingkan dengan LPG.

Sebab, kata dia, ada perbedaan karakteristik dari keduanya. Misalnya, CNG memiliki tekanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan LPG sehingga untuk mengangkutnya ke pelanggan (industri) membutuhkan material tabung yang lebih kuat.

Hal ini berdampak pada ongkos dari sisi material menjadi lebih mahal yakni sekitar US$10 – US$13 per MMBTU.

Leave a Comment