Maskapai Negeri Tetangga Pakai Minyak Jelantah

Maskapai penerbangan Malaysia Airlines akan menggunakan minyak jelantah sebagai bahan bakar untuk penerbangan dari Kuala Lumpur ke singapura pada hari Minggu (5/6/2022). (sumber foto: soyacincai.com)

SAMADE – Mungkin ada benarnya kalau dikatakan Malaysia, negeri jiran kita, memiliki kemajuan yang lebih baik dalam bidang industri perkebunan kelapa sawit dibandingkan kita, Indonesia.

Kita boleh saja tercatat sebagai produsen terbesar minyak sawit dan beragam produk turunan minyak sawit. tetapi dalam hal kreasi dan penggunaan produk turunan minyak sawit pun kita bisa jadi kalah.

Mari kita contohkan untuk satu hal: industri penerbangan. Begini, tahun lalu, persisnya hari Rabu (6/10/2021), Indonesia dengan bangga mengumumkan telah sukses melakukan uji terbang pesawat CN235-220 FTB.

Pesawat itu adalah milik PT Dirgantara Indonesia (PTDI), salah satu badan usaha milik negara (BUMN). Yang membuat bangga adalah, uji terbang pesawat tersebut menggunakan bioavtur yang terdiri dari bahan bakar nabati (BBN) sebesar 2,4%.

Pastilah kita bangga dengan hal itu, sambil berharap kelak bioavtur berbahan sawit memang benar-benar diproduksi dan digunakan secara massal dalam industri penerbangan agar memberikan pengaruh positif pada kesejahteraan petani sawit.

Namun kabar mengejutkan datang dari Malaysia. Dalam situs soyacincau.com, yang diakses SAMADE, Selasa (31/5/2022), disebutkan Malaysia Airlines akan mengoperasikan penerbangan pertamanya dengan bahan yang terkait sawit.

Tapi jangan salah. Yang dipakai untuk bioavtur Maskapai Airlines justru minyak jelantah atau used cooking oil (UCO). Padahal di Indonesia minyak jelantah banyak dibuang atau diekspor ke Eropa.

Nah, di tangan Malaysia, minyak jelantah ini dijadikan bioavtur untuk dipakai dalam penerbangan Malaysia Airlines, dari Kuala Lumpur ke Singapura.

Alexander Wong, penulis berita ini, menyebutkan penerbangan itu akan dilakukan Minggu (5/6/2022). Pihak Malaysia Airline telah mengumumkan hal ini ke publik.

Mereka menyebutnya sebagai layanan penerbangan penumpang pertama yang menggunakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) yang dilakukan bersamaan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Penerbangan komersial pertama itu dilakukan untuk penerbangan pulang pergi menggunakan Boeing 737-800.Malaysia Airlines bertekad untuk menggunakan bahan bakar berkelanjutan secara penuh pada tahun 2025.

Menariknya, dalam penerbangan nanti penumpang dapat menikmati diskon 15% untuk penerbangan bertenaga SAF ini dengan memasukkan kode promo SAF2022.

Para tamu dianjurkan untuk memesan sesegera mungkin selama kursi masih tersedia.

Dan ternyata aksi penggunaan minyak jelantah ini bukan yang pertama kali dilakukan. Pada Desember tahun lalu, Malaysia Airlines mengoperasikan penerbangan perdana menggunakan bahan bakar SAF.

Pesawat yang dipakai adalah Airbus A330-200 dari Amsterdam ke Kuala Lumpur. Penerbangan itu diisi dengan 77 ton (77.300 kg) bahan bakar dengan campuran campuran 38% SAF.

Pada desember 2021 Malaysia Airline juga dikabarkan telah menggunakan bahan bakar minyak jelantah dan sejumlah campuran lainnya untuk bioavtur dalam penerbangan dari Amsterdam, Belanda, ke Kuala Lumpur, Malaysia. (sumber foto: soyacincau.com)

Ini terdiri dari 100% limbah terbarukan dan bahan baku residu seperti minyak goreng bekas dan limbah lemak hewan. Bahan bakarnya bersumber dari Neste, produsen diesel dan SAF terbarukan terkemuka di dunia.

SAF Neste MY dalam bentuk yang rapi dikatakan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 80% dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar jet fosil.

Bahan-bahan itu juga dikatakan bebas belerang, oksigen dan aromatik. Selain itu diklaim juga memiliki kinerja yang baik saat menghadapi cuaca dingin yang luar biasa dengan titik beku -47°C atau lebih rendah.

SAF dikatakan sepenuhnya kompatibel dengan mesin jet dan infrastruktur yang ada tanpa investasi tambahan atau modifikasi yang diperlukan.

Duh, luarbiasa Malaysia. Saat kita baru ujicoba, ehhh, mereka malah sudah mempraktekkannya untuk penebangan komersial. Enggak tanggung-tanggung, penerbangan dari Amesterdam, Belanda, sudah ditempuh.

Sebentar lagi menyusul penerbangan dari dan ke Singapura – Kuala Lumpur. Sudahlah petani sawit mereka untung banyak karena harga tandan buah segar (TBS) tinggi akibat kebijakan nyeleneh larangan ekspor produk turunan sawit dari Indonesia.

Eh, kini dunia dirgantara mereka malah selangkah lebih maju bila dibandingkan Indonesia. Naseb…naseb…. Semogalah kita bisa mengejar ketertinggalan ini ya!!

Leave a Comment