Memori Kelam Harga TBS, Pernah Rp 250/Kg

Teks Foto: Seorang pekerja menaikan TBS ke truk. Harga TBS produksi petani swadaya pernah jatuh begitu dalam. Saat ini harga bahkan sudah tembus Rp 3.000 per kg. Para petani diminta untuk tidak bersikap boros selama harga TBS melambung tinggi. (sumber foto: Antara)

SAMADE – “Belasan tahun yang lalu harga tandan buah segar (TBS) pernah jatuh hingga ke Rp 250 per kilogram,” kata O Panggabean, seorang petani sawit swadaya dari Kecamatan Minas, Kabuoaten Siak, Riau, dalam diskusi di sebuah grup sawit di media sosial (medsos) Facebook.

“Di Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, pernah harga TBS produksi petani Rp 400 per kilogram. Itu di tahun 2019,” kata Rahmat turut menimpali.

Ari Vindi Iswanto, petani sawit di Sumatera Selatan, menyebutkan di tahun 2018 harga TBS pernah Rp 600 per kg.

“Di Benglulu tahun 2012 pernah harganya Rp 500 per kg. Gak kebayang,” kata Kapten Amanda, petani sawit di Bengkulu.

Begitulah percakapan di sebuah grup medsos FB. Mungkin banyak cerita sejenis yang mengenang memori kelam harga TBS yang dialami petani sawit swadaya di seluruh Indonesia.

Namun cerita kelam nan pedih itu kini mulai berakhir. Sejak dua tahun terakhir, terutama saat dunia diserang pandemi Covid- 19, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil atau minyak inti sawit (PKO) mengalami kenaikan drastis.

Imbasnya, harga TBS produksi petani sawit swadaya dan plasma juga ikut naik. Bahkan, seperti tak pernah dibayangkan jika harga TBS kini mulai melewati harga Rp 3000 per kg.

Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) secara bertahap yang telah berlangsung sejak tahun lalu diprediksi masih akan berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.

Tapi petani diingatkan bahwa harga TBS tak selamanya mahal. Sejarah sudah membuktikan harga TBS pernah anjlok habis-habisan.

Ekonom sekaligus akademisi, Benyamin Gunawan, mengatakan, kenaikan harga TBS saat ini adalah berkah buat petani sawit di seluruh Indonesia.

“Tapi saya sarankan uang dari penjualan sawit yang mahal saat ini sebaiknya digunakan untuk hal yang produktif,” katanya seperti dimuat laman Elaeis.co yang diakses SAMADE, Senin (8/11/2021).

Pengajar di sejumlah kampus di Medan ini menyarankan petani menggunakan uang hasil penjualan TBS secara terukur seperti memperbaiki cash flow rumah tangga, memperbaiki kondisi tanaman sawit, atau perawatan lainnya.

Ia lalu mengingatkan petani sawit akan memori kelam di tahun 2019. Saat itu, kata Gunawan, harga TBS pernah turun di bawah Rp 1.000/kg. “Seingat saya, bahkan ada petani yang menjual TBS dengan harga Rp 700/kg,” ungkapnya.

Menurutnya, situasi tersebut bukan tidak mungkin akan terulang di masa depan. Karena itu meminta petani memanfaatkan kenaikan harga TBS saat ini untuk keperluan yang sifatnya produktif.

“Saat ini saya yakin harga TBS masih akan mahal, setidaknya hingga penutupan akhir tahun 2021. Tapi sejarah harga TBS murah bisa terulang kapan saja,” pesannya.

Ia tidak bermaksud menakut-nakuti para petani. Kata dia, sejumlah tantangan sudah jelas ada di depan mata, salah satunya pandemi Covid-19 yang tak tahu kapan akan berakhir.

“Covid-19 membuat banyak negara masih menutup diri,” ujarnya.

Belum lagi munculnya sejumlah ketegangan politik di tingkat regional, musim dingin yang belum usai, dan potensi badai La Nina.

‘Juga jangan lupakan stagflasi yang terjadi di China saat ini yang diperkirakan akan membesar dan membuat daya beli China, termasuk untuk membeli CPO kita, berpotensi turun,” tegasnya.

Sekadar informasi, stagflasi adalah kondisi miring ekonomi yang terjadi bersamaan. Yakni lambatnya pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan naiknya inflasi, jumlah pengangguran, dan sejumlah kendala ekonomi lainnya.

Leave a Comment