Miris Ya, Harga CPO Naik, Wajah Petani Tetap Buram

Teks Foto: Seorang pettani sawit sedang mengumpulkan tandan buah segar (TBS) untuk kemudan dijual. (Sumber Foto: internet)

SAMADE – Selama sepekan ini rasanya seperti pekan-pekan sebelumnya ya, Sedulur. Sama seperti ketika kebijakan larangan ekspor produk turunan sawit diberlakukan dan akhirnya harga pembelian tandan buah segar (TBS) menjadi anjlok.

Sekarang sepertinya demikian. Kebijakan larangan eks;por telah dicabut, tapi keluar pula dua peraturan menteri perdagangan (Permendag) Nomor 30 dan 33 tahun 2022 yang bikin kening petani sawit berkerut.

Bagaimana tidak berkerut? Sebab, harga TBS yang diprediksi bakal naik melesat saat kebijakan larangan ekspor dicabut, eh ternyata harga TBS masih berbeda tipis saat harga anjlok.

Padahal, menurut laman CNBC Indonesia, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (MSM/CPO) naik tipis di sesi pembukaan perdagangan pada hari ini, Jumat (27/5/2022), setelah harga CPO kemarin melesat.

Namun, ketika harga CPO naik, petani sawit swadaya di Indonesia justru diprediksi akan mengalami kerugian. Apa penyebabnya?

Mengacu pada data kepada Refinitiv, pukul 08:30 WIB harga CPO di banderol di level MYR 6.575/ton atau naik tipis 0,64%. Di sepanjang pekan ini, harga CPO berhasil membukukan kenaikan 7,63%, tapi masih terkoreksi 4,9% secara bulanan.

Chart: Annisa Aflaha Source: Refinitiv Created with Datawrapper (sumber: CNBC Indonesia)

Secara teknis, Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memproyeksikan harga CPO hari ini akan naik ke kisaran MYR 6.713-6.731/ton, didorong oleh gelombang (c).

Gelombang tersebut akan dimulai pada MYR 6.289/ton dan diperkirakan akan mencapai MYR 6.928/ton.

Sumber: Refinitiv/repro CNBC Indonesia

Kontrak minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia Derivatives Exchange pada Kamis (26/5) ditutup melonjak 2,44% ketimbang hari sebelumnya, dan di banderol di MYR 6.533/ton. Level tersebut menjadi rekor tertinggi sejak 5 Mei.

Minyak sawit berjangka Malaysia berbalik arah untuk mencapai penutupan tertinggi tiga minggu pada hari Kamis, dipicu oleh permintaan pasar di tengah ketatnya pasokan karena minyak nabati dari Indonesia tetap absen dari pasar global.

Analis minyak nabati terkemuka dan merupakan Direktur Godrej International Mistry sudah mendesak Indonesia untuk segera melanjutkan ekspor minyak sawit.

Analis ini bahkan sudah memperingatkan bahwa penghentian pengiriman sambil menunggu rincian aturan penjualan domestik dapat menyebabkan “malapetaka” ekonomi bagi petani.

Dalam sebuah surat terbuka kepada pemerintah Indonesia yang dibagikan kepada beberapa media internasional, Mistry mengatakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia sedang menuju ke “situasi bencana” karena persediaan telah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah melebihi tujuh juta ton.

“Jika ekspor tak terbatas tidak dimulai sebelum akhir Mei, kami memperkirakan situasi di mana semua tangki penyimpanan akan penuh dan industri akan terhenti,” katanya yang dikutip dari Reuters.

Dia juga menambahkan bahwa kerugian tersebut tentunya akan berdampak buruk pada petani Indonesia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah membuka kembali keran ekspor CPO Indonesia dan memberlakukan kebijakan penjualan lokal atau domestic market obligation (DMO), tapi eksportir telah menahan pengiriman karena mereka menunggu perincian aturan terbaru.

Menurut Mistry, petani sawit di Indonesia sudah dibebani dengan pungutan dan pajak yang lebih tinggi sebesar $ 575 per ton dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di Malaysia yang membayar $125 per ton.

“Tapi sekarang mereka menghadapi situasi yang luar biasa karena tidak bisa memanen buah mereka dan malah akan dipaksa menontonnya membusuk di pohon,” katanya.

Kata Mistry, di awal Juni akan ada curah hujan sehingga ada potensi ledakan pada produksi CPO.

Tidak hanya itu, ia mengatakan larangan ekspor CPO Indonesia tempo hari telah memaksa negara-negara untuk melihat ketergantungan mereka pada kelapa sawit Indonesia.

Akhirnya mereka cara untuk membuat harga CPO lebih murah, seperti halnya India yang menerapkan bebas harga bea cukai untuk minyak nabati termasuk CPO.

Kombinasi dari tangki penyimpanan penuh, potensi ledakan pada produksi, permintaan yang buruk, dan ekspor yang dibatasi, kemungkinan akan membawa malapetaka bagi petani Indonesia.

Mistry mengungkapkan bahwa potensi bencana ekonomi bagi petani tersebut dapat dihindari jika pemerintah segera mengadopsi kebijakan ekspor tak terbatas yang diungkapkan sebagai solusi win-win bagi petani dan pembeli.

Sisi lainnya, nilai ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1-25 Mei naik 23,9% menjadi 1.112.175 ton dari 897.683 ton, seperti yang dilaporkan oleh Diler Kargo Societe Generale de Surveillance pada Kamis (26/5/2022).

Leave a Comment