DPR-RI: Soal Sawit, Eropa Bersikap Diskrimninatif!

Bagikan:
Teks Foto: Potensi dan manfaat yang sangat banyak dari tanaman sawit membuat Uni Eropa bersikap diskriminatif. Padahal dunia saat ini justru sangat membutuhkan tanaman kelapa sawit untuk berbagai hal, termasuk menjadikan sawit sebagai sumber energi yang terbarukan, menggantikan energi berbahan fosil yang sudah hampir habis stoknya dan tak bisa diandalkan. (foto: elaeis.co)

SAMADE – Anggota Komisi XI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir, menilai Uni Eropa telah bersikap tidak adil dan diskriminatif terhadap perkebunan kelapa sawit yang berkembang sangat pesat di Indonesia.

Berbagai isu , termasuk isu lingkungan, terus- menerus dihembuskan oleh pihak Uni Eropa terhadap sawit nasional.

Padahal, kata Achmad Hafisz Tohir seperti dikutip dari laman elaeis.co, Senin (12/4/2021), di tengah proyeksi pertumbuhan populasi dunia yang terus meningkat dan kian menyempitnya lahan pertanian, energi terbarukan semakin menjadi kebutuhan mendesak.

Energi terbarukan itu salah satunya dihasilkan dari produk kelapa sawit. Sawit tidak hanya jadi primadona, bahkan jadi masa depan bangsa.

“Tidak ada negara lain sebaik negara kita pertumbuhan sawitnya. Kita punya 12 jam sinar matahari, 365 hari, dan tidak ada musim dingin. Maka sawit tumbuh dengan baik. Kita produsen sawit terbesar di dunia,’ ucap Achmad Hafisz Tohir.

Kata dia, tantangannya adalah kampanye negatif terhadap produk sawit milik Indonesia. Tantangan tersebut, lanjut Hafisz, datang dari kampanye negatif Uni Eropa yang selalu menyuarakan isu lingkungan terhadap produk sawit Indonesia.

“Isu lingkungan yang disuarakan Uni Eropa tidak adil,” ujarnya. Dulu, kata Hafisz, memang petani di Indonesia menebang pepohonan untuk menanam kelapa sawit.

Tapi, kini lahan-lahan tidak produktif diubah menjadi perkebunan sawit, sehingga bernilai ekonomi tinggi dan lingkungan pun terjaga.

Bila isu lingkungan dikaitkan dengan masa lalu, maka Indonesia juga bisa menggugat negara-negara Eropa yang dulu menggunduli hutannya untuk membangun ibu kota.

“Sekarang orang menanam sawit tidak lagi membakar lahan. Zaman sudah berubah. Kalau kita kembali ke masa lalu, kita juga bisa protes pada Inggris dan Prancis. Kenapa Paris hutannya digunduli untuk membangun kota indah Paris. Begitu juga London dan Washington DC. Yang sudah berlalu ya sudah. Kita bicara ke depan,” ucapnya.

Ditambahkan Hafisz, Uni Eropa harus membuktikan bahwa perkebunan sawit di Indonesia merusak lingkungan. Justru, katanya, 43 persen lahan sawit itu berada di daerah terlantar yang kemudian diperbaiki ekosistemnya.

Maka, sambung Hafisz, jadilah kini lahan sawit. Ia yakin, tidak ada yang rusak, malah lingkungan membaik.

“Ini harus kita kampanyekan kepada negara-negara sahabat. Jangan sampai ada yang mengatakan produk sawit mengganggu karbonisasi dunia. Ini harus kita jelaskan kepada dunia,” seru Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR ini.

Di sinilah BKSAP DPR intens melakukan diplomasi parlemen kepada negara-negara sahabat terutama Uni Eropa. Sawit di Indonesia sudah menjadi masa depan bangsa di sektor perkebunan dan industri.

Apalagi, ucapnya, sawit mampu menggantikan energi fosil yang kini dikenal dengan B30 berupa BBM jenis solar.

“Sawit di Indonesia sudah bersahabat dengan lingkungan. Sudah menganut tata lingkungan dan tata kelola yang baik. Bahkan, kita sudah punya konsultan untuk memberi sertifikasi produk sawit yang layak untuk dikonsumsi,” jelas Hafisz.

Bertita Terkait

Leave a Comment