Saat Pandemi Covid-19 Mengganas, Sawit Memberi Hasil yang Trengginas

Teks Foto: Di balik duka ada suka. Mungkin begitulah gambaran Indonesia yang saat ini sedang bekerja keras menghalau pandemi Covid-19 varian Delta agar segera berlalu. Banyak tenaga dan biaya yang dikeluarkan. Namun di saat yang bersamaan, perkebunan kelapa sawit justru memberikan cuan atau keuntungan miliaran Dolar AS bagi Indonesia. Situasi ini setidaknya bisa meringankan beban ekonomi nasional yang sedang terseok-seok.(foto: facebook)

SAMADE – Boleh jadi varian Delta dari pandemi Covid-19 ini membuat banyak negara di dunia, baik India, dan kini Indonesia, begitu kewalahan menanganinya. Ekonomi harus diakui menjadi morat-marit. Namun pandemi Covid-19 tidak melulu menghasilkan kabar duka, melainkan juga kabar suka.

Di balik wabah Covid-19 yang mengganas, ternyata perkebunan kelapa sawit memberikan hasil yang trengginas bagi perekonomian Indonesia. Sawit menjadi pelipur lara ekonomi nasional kita.

Menurut laman Elaeis.co yang diakses SAMADE, Kamis (15/7/2021), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengumumkan bahwa pada bulan Mei 2021 menjadi bulan paling istimewa bagi ekspor minyak sawit Indonesia.

Sebab di bulan itu, rekor tertinggi (paripurna) nilai ekspor minyak sawit sepanjang 10 tahun terakhir, ditorehkan; mencapai USD 3,063 miliar.

“Rekor ini terjadi lantaran harga rata-rata Crude Palm Oil (CPO) pada bulan Mei sangat tinggi; USD1.241 per ton CIF Rotterdam,” kata Direktur Eksektutif GAPKI, Mukti Sardjono.

Cost, Insurance, and Freight (CIF) sendiri adalah metode penjualan atau penyerahan barang, termasuk minyak sawit, yang dilakukan di atas kapal.

Kota Rotterdam (Belanda) sendiri merupakan tempat transaksi global untuk minyak sawit dari seluruh dunia.

Mukti kemudian mengurai bahwa nilai ekspor sawit pada bulan Mei mencapai 18,5% dari USD16,60 miliar nilai total ekspor nasional.

Nilai total itu kemudian menghasilkan neraca perdagangan bulanan lebih dari USD2,37 miliar.

Kenaikan nilai ekspor sawit tadi menurut Mukti didukung oleh kenaikan volume ekspor yang nilainya lebih dari 12,0% ketimbang bulan sebelumnya yang mencapai 2,952 juta ton.

Kenaikan volume ekspor tadi didominasi oleh produk olahan CPO, yang tadinya 1,886 juta ton menjadi 2,318 juta ton. Ini berarti, terjadi kenaikan sekitar 432 ribu ton atau setara dengan lebih dari 22,9%.

Lalu olahan Palm Kernel Oil (PKO) naik lebih dari 34,8% atau sekitar 31 ribu ton. Dari yang tadinya 88 ribu ton menjadi 119 ribu ton. Hanya saja, ekspor CPO dan crude PKO justru turun di kisaran 40% atau sekitar 119 ribu ton.

Adapun tujuan ekspor kata Mukti, kenaikan tertinggi terjadi ke Pakistan. Yang tadinya hanya sekitar 127 ribu ton menjadi 265,5 ribu ton.

Lantas ke Afrika (selain Mesir) naik 103,6 ribu ton menjadi 243,2 ribu ton, Timur Tengah (selain Mesir) naik 75,1 ribu ton menjadi 154,72 ribu ton. Tapi ke Mesir justru turun 15,8 ribu ton menjadi 77,0 ribu ton.

Dari semua penurunan tadi, tujuan ke China yang paling besar penurunannya; 157,6 ribu ton menjadi 467,3 ribu ton. Ke India turunan 83,7 ribu ton menjadi 213,9 ribu ton.

Pasar dalam negeri, untuk konsumsi naik sebesar 55 ribu ton menjadi 1,645 juta ton atau surplus 3,5%.

Keperluan pangan naik 2,8% menjadi 842 ribu ton, oleokimia naik 8,6% menjadi 176 ribu ton, biodiesel turun 0,32% menjadi 627 ribu ton dari bulan sebelumnya.

Dalam catatan GAPKI, produksi sawit bulan Mei mencapai 4.354 ribu ton. CPO 3.966 ribu ton dan PKO 388 ribu ton.

Ini berarti, total kenaikan produksi CPO dan PKO mencapai 257 ribu ton atau naik 6% ketimbang produksi bulan April yang hanya 4.097 ribu ton.

Kenaikan produksi itu lebih rendah dari kenaikan ekspor dan konsumsi sebesar 353 ribu ton, alhasil, stok bulan Mei turun menjadi 2,884 ribu ton.

“Rendahnya stok minyak sawit dan juga beberapa minyak nabati utama lainnya menjadi salah satu penyebab tingginya harga minyak nabati itu,” ujar Mukti.

Leave a Comment