“Sampai Kapan Kondisi Ini Dibiarkan, Bapak Presiden Jokowi?”

Teks Foto: Presiden Jokowi memberikan sambutan virtual dalam Konferensi Tingkat Tinggi Climate Adaptation Summit (KTT CAS) 2021, Senin (25/01/2021). (Sumber foto: Madan Berkelanjutan)

SAMADE – Kepada Presiden Republik Indonesia yang kami hormati, Bapak H. Joko Widodo, semoga Anda dalam keadaan sehat selalu.

Bapak Presiden yang kami hormati, hari-hari belakangan ini menjadi hari yang begitu gelap bagi kami selaku petani sawit.

Persoalan mahalnya minyak goreng (migor) yang merembet ke harga bahan pokok lainnya sejak beberapa bulan terakhir bukanlah kesalahan kami selaku para petani sawit.

Yang kami tahu, itu adalah sesuatu yang disebut para pakar ekonomi sebagai murni mekanisme pasar.

Jujur kami akui kalau gejolak harga minyak nabati di pasar global mendongkrak harga tandan buah segar (TBS) dari kebun sawit kami yang dibeli pihak tingkat pabrik kelapa sawit (PKS).

Tapi itu tentu saja bukan kewenangan kami, itu mekanisme pasar.

Dus, sebenarnya harga yang kami terima pun “tidak ada apa-apanya” bila dibandingkan tingginya harga TBS petani sawit di Malaysia dan Thailand, dua negara tetangga kita.

Selain itu, memang baru di era kepemimpinan Anda lah kami bisa menikmati harga TBS di atas Rp 2.500 per kilogram.

Tentu kami bersyukur kepada Tuhan Yang Mahaesa, dan tidak salah kalau kami berharap harga tinggi itu berlangsung lama, kan?

Apalagi sudah puluhan tahun kami tak pernah menikmati harga TBS yang tinggi.

Yang banyak menikmati bisnis kelapa sawit, Bapak Presiden tentu tahu sendiri, pastilah para pengusaha sawit yang bisnisnya kian menggurita.

Bahkan, kekayaan para konglomerat sawit itu main dahsyat saat pemerintah memutuskan program pembuatan biodiesel menjadi sebuah kewajiban atau mandatori dan melibatkan para konglomerat tersebut.

Bapak Presiden yang kami hormati, kini persoalan migor menjadi prioritas nasional yang harus diselesaikan.

Bapak lalu memutuskan untuk melarang ekspor migor dan bahan baku migor mulai Kamis (28/4/2022) sampai waktu yang Bapak sendiri yang menentukan.

Namun sayangnya, Bapak Presiden yang kami hormati, keputusan yang Bapak ambil justru membuat 16 juta keluarga petani sawit berpotensi menjadi jatuh miskin.

Kami tak tahu apakah keputusan larangan ekspor itu Bapak maksudkan untuk menekan para konglomerat sawit. Kami benar-benar tak tahu, Pak Presiden.

Kami enggak punya kemampuan untuk menganalisa hal itu lebih dalam. Kami hanya petani sawit, Bapak Presiden.

Namun yang terjadi har-hari belakangan ini, Bapak Presiden yang kami hormati, ternyata pengusaha sawit pun mulai kelabakan.

Ada sejumlah perusahaan sawit yang tutup dan tak mau membeli TBS petani dengan macam-macam alasan, dari mulai alasan sedang memperbaiki mesin atau pabrik sampai alasan tangki timbun CPO penuh.

Kami, sekali lagi, Bapak Presiden yang kami hormati, tentu tak paham apakah sikap para pengusaha sawit itu jujur atau tidak.

Yang pasti, kami merasa hari-hari belakangan ini menjadi gelap bagi kami.

Banyak TBS kami, Bapak Presiden yang kami hormati, menjadi tidak laku sama sekali. Atau kalau pun laku maka harganya sudah melorot jauh.

Sampai kapan kebijakan larangan ekspor ini diberlakukan, Bapak Presiden yang kami hormati. Sebab kami, 16 juta petani plus dengan keluarga masing-masing tak mau menjadi korban dari kebijakan Anda, Bapak Presiden yang kami hormati.

Bukan kami yang menimbulkan prahara minyak goreng ini. Karena itu, tentu kami tak mau menjadi korban, Bapak Presiden yang kami hormati.

Biasanya rakyat akan selalu menemukan jalannya sendiri kalau terus menjadi korban, Bapak Presiden yang kami hormati.

Salam hormat kami untuk Bapak Presiden Joko Widodo.

Leave a Comment