Terkait Sawit, 3 Negara Merasa Dibuat Menderita Oleh Kebijakan Pemerintah Indonesia

SAMADE – Walau kebijakan larangan ekspor beragam produk turunan sawit telah dicabut Presiden Joko Widodo, namun tidak terlihat ada tanda-tanda kemudahan ekspor yang dimunculkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 30/2022 tentang Ketentuan Ekspor CPO, RBD Palm Oil, RBD Palm Olein, dan UCO.

Petani sawit swadaya yang sempat bahagia karena keran ekspor sudah dibuka, tampaknya harus kembali bersabar.

Sebab, Permendag 30/2022 itu justru semakin membuat pergerakan harga tandan buah segar (TBS) mengalami perlambatan kenaikan.

Tapi ternyata bukan hanya petani sawit yang suntuk kali melihat kebijakan pemerintah kita ini. Ada tiga negara yang merupakan tetangga serta sahabat lama Indonesia yang juga merasa suntuk ngeliat kebijakan sawit kita.

Dikutip dari laman media internasional, Reuters, Selasa (24/5/2022), ketiga negara itu bahkan merasa dibiarkan menderita akibat kekurangan pasokan minyak sawit oleh kebijakan Indonesia.

Atul Chaturvedi selaku Presiden Badan Perdagangan Asosiasi Ekstraktor Pelarut atau Trade Body the Solvent Extractors Association of India (SEA) merasa kebijakan Presiden Jokowi telah meberikan pukulan ganda bagi India.

Padahal awalnya mereka merasa tetap bisa memenuhi kebutuhan minyak nabati lebih satu miliar warga India walau Rusia dan Ukraina saling berperang.

Atul Chaturvedi menyebutkan tiga negara importir minyak sawit, yakni India, Bangladesh, dan Pakistan, mencoba membeli minyak sawit produksi Malaysia.

Namun tetap saja Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia itu tak bisa memenuhi kebutuhan tiga negara di Asia Selatan tersebut.

“Malaysia tetap tak bisa mengisi celah atau kekosongan pasokan minyak sawit yang selama ini telah begitu stabil diisi pihak Indonesia selaku produsen terbesar minyak sawit,” kata Chaturvedi.

Mohamad Jan Rasheed selaku Ketua Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA) sependapat dengan Atul Chaturvedi. Kata dia, Indonesia biasanya memasok hampir setengah dari total impor minyak sawit India.

Sementara Pakistan dan Bangladesh, kata Mohamad Jan Rasheed. mengimpor hampir 80% minyak sawit mereka dari Indonesia.

Ia menilai kebijakan Indonesia telah membuat banyak negara menderita, termasuk mereka yang ada di Asia Selatan.

“Tidak ada yang bisa mengkompensasi hilangnya minyak sawit Indonesia. Setiap negara akan menderita,” tegas Rasheed.

Sabar ya saudara-saudara kami dari India, Pakistan, dan Bangladesh.

Jangankan kalian selaku pembeli minyak sawit, kami selaku petani sawit yang menjual TBS ke PKS juga harus menahan nafas dan mengelus dada melihat kebijakan pemerintah kami sendiri.

Leave a Comment