Wow, Kini Ada BBN Generasi Kedua

Teks Foto: Peneliti ICCT, Tenny Kristiana, menyebutkan Indonesia berpeluanag mendapatkan manfaat tambahan dari kelapa sawit, khususnya untuk pengembangan bahan bakar nabati (BBN) biofuel yang diklaim merupakan generasi kedua. Jika bisa diproduksi dan diserap secara massif, maka hal ini membuktikan bahwa tanaman kelapa sawit memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Bahkan residu sawit pun bisa diolah menjadi BBN. Luarbiasa bukan! (sumber foto: InfoSawit.com)

SAMADE – Jamak diketahui kalau pemerintah pusat menegaskan bahwa program pengadaan biodiesel adalah mandatori, wajib dikerjakan. Saat ini bahkan sudah masuk pada tahap B-30. Artinya, 30% campuran bahan bakar minyak (BBM) yang diproduksi merupakan berbahan baku minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Namun, seperti dimuat laman InfoSawit.com yang diakses SAMADE, Selasa (13/7/2021), ternyata bahan bakar nabati (BBN) yang berasal perkebunan kelapa sawit yang bisa dikembangkan bukan hanya biodiesel saja.

Berkat perkembangan teknologi yang kian pesat, kini sudah tercipta biofuel generasi kedua yang juga berbahan baku sawit.

Nama BBN itu adalah cellulosic ethanol yang diklaim merupakan biofuel generasi kedua dan digadang-gadang bisa menjadi salah satu solusi ketersediaan BBN ramah lingkungan di masa mendatang.

Yang dibutuhkan saat ini adalah dukungan pemerintah untuk pengembangan biofuel generasi kedua tersebut.

Dengan demikian, seperti kata peneliti International Council on Clean Transportation (ICCT), Tenny Kristiana, BBN sawit tidak hanya bisa diubah menjadi bioethanol yang bisa dicampur dengan bensin, melainkan mampu pula diubah menjadi greendiesel.

Mirisnya, Tenny Kristiana melihat sejak 2016 di Indonesia tercatat tidak ada produksi dan konsumsi bahan bakar bioetanol.

Padahal pemerintah telah mendorong pemanfaatan bioetanol dengan target pencampuran sebesar 2% (E2) di beberapa kota di Indonesia.

“Dalam perkembangannya menunjukkan, justru konsumsi bensin di Indonesia selama periode tahun 2010-2019 terus meningkat hingga melebihi konsumsi solar di tahun 2015 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 48%,” kata Tenny.

Untuk memenuhi permintaan bahan bakar bensin, ia memprediksi Indonesia akan terus meningkatkan impor BBM. Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan ICCT, permintaan BBM dan impor akan terus mengalami peningkatan di masa depan.

“Padahal sebenarnya Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah untuk cellulosic ethanol yang bisa dicampur atau blanding dengan bensin, sehingga bisa mengurangi impor bensin nasional,” kata Tenny.

Tenny menjelaskan, BBN generansi kedua ini tercatat menggunakan teknologi maju dibanding proses etanol konvensional.

BBN generasi kedua kali ini, ujarnya, malah hanya menggunakan bahan baku yang biasa digunakan adalah biomasa selulosa seperti residu pertanian, termasuk perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit.

Dengan luasnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia, industri cellulosic ethanol diharapkan bisa memanfaatkan kelebihan residu sawit yang diproduksi dari industri minyak sawit di Indonesia.

ICCT, kata Tenny, telah mengevaluasi residu dari proses pengolahan kelapa sawit dan residu di kebun kelapa sawit serta penggunaannya di Indonesia.

Leave a Comment